Pemerintah mewajibkan kepada pengguna energi dalam jumlah besar atau minimal setara dengan 6000 ton oil equivalent (TOE) pertahun untuk menerapkan manajemen energi.
Hal itu dikatakan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (DJEBTKE) Luluk Sumiarso saat menjadi keynote speech Promotion Of Energy Efficiency and Conservation (PROMEEC) di Hotel Sahid Jaya.
Sabtu, 24 September 2011
Menstimulasi Investasi Energi Terbarukan
Konsumsi energi nasional tiap tahun mengalami peningkatan tajam seiring perkembangan ekonomi nasional yang semakin membaik. Energi nasional yang didominasi energi listrik dan minyak yang hampir 52 persen total bauran energi nasional, rata-rata tiap tahun tumbuh 7 persen. Hal ini sebagai akibat pertambahan penduduk, pertumbuhan industri maupun pertumbuhan ekonomi. Sedangkan rata-rata pertumbuhan ekonomi (economic growth) nasional beberapa tahun terakhir sebesar 6 persen. Ini berarti pertumbuhan sektor energi melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.
Energi : Fokuskan Perhatian pada Geotermal
Pemerintah diminta memprioritaskan solusi kebutuhan energi pada sektor geotermal, air, dan sumber terbarukan lain. Rencana pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir lebih baik ditunda karena sumber energi yang aman bagi manusia dan lingkungan masih tersedia melimpah.
Direktur Eksekutif, WALHI - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Berry Nahdian Furqan, Kamis (11/8), di Jakarta, mengatakan, potensi geotermal Indonesia mencapai 28.000 megawatt (MW). Kapasitas terpasang baru 1.180 MW (4,2 persen). Potensi dari tenaga air yang sebesar 75.000 MW pun baru digunakan sebagian kecil.
Direktur Eksekutif, WALHI - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Berry Nahdian Furqan, Kamis (11/8), di Jakarta, mengatakan, potensi geotermal Indonesia mencapai 28.000 megawatt (MW). Kapasitas terpasang baru 1.180 MW (4,2 persen). Potensi dari tenaga air yang sebesar 75.000 MW pun baru digunakan sebagian kecil.
Biogas Sebagai Sumber Energi Alternatif
Biogas adalah sumber energi alternatif dengan menipisnya kandungan minyak bumi. Ini perlu dilakukan karena pertumbuhan penduduk semakin pesat akan mempengaruhi tingkat kebutuhan energi yang besar. Selama ini minyak bumi menjadi sumber energi yang utama. Adanya eksploitasi penduduk maka kebutuhan energi juga akan meningkat tajam. Lama kelamaan sumber energi minyak bumi akan habis.
Energi Panas Bumi Indonesia
Jawa Barat memiliki potensi sumber daya alarn panas bumi yang luar biasa besar dan merupakan yang terbesar di Indonesia. Potensi panas bumi di Jawa Barat mencapai 5411 MW atau 20% dari total potensi yang dimiliki Indonesia. Sebagian potensi panas bumi tersebut bahkan telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik seperti:
PI-TP Kamojang di dekat Garut, memiliki unit 1, 2, 3 dengan kapasitas total 140 MW. Potensi yang masih dapat dikembangkan sekitar 60 MW.
PLTP Darajat, 60 km sebelah tenggara Bandung dengan kapasitas 55 MW
PLTP Gunung Safak di Sukabumi, terdiri dari unit 1, 2, 3, 4, 5, 6 dengan kapasitas total 330 M1K
PI-TP Wayang Windu di Pangalengan dengan kapasitas 110 MW.
PI-TP Kamojang di dekat Garut, memiliki unit 1, 2, 3 dengan kapasitas total 140 MW. Potensi yang masih dapat dikembangkan sekitar 60 MW.
PLTP Darajat, 60 km sebelah tenggara Bandung dengan kapasitas 55 MW
PLTP Gunung Safak di Sukabumi, terdiri dari unit 1, 2, 3, 4, 5, 6 dengan kapasitas total 330 M1K
PI-TP Wayang Windu di Pangalengan dengan kapasitas 110 MW.
Pengamat Migas: Sektor Energi Mengkhawatirkan
Selain pendapatan negara terganggu akibat keterbatasan minyak dan gas atau migas di dalam negeri, pemerintah juga belum menemukan cara terbaik untuk mengembangkan energi alternatif untuk bisa segera digunakan di Indonesia.
Kepada VOA Minggu malam, pengamat migas dari Pusat Kajian Strategis untuk Kepentingan Nasional, Dirgo Purbo, berpendapat kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak membuat pemerintah saat ini maupun pemerintah sebelumnya tulus untuk mengolahnya dengan baik dan benar serta transparan. Menurutnya, ketersediaan energi masih dijadikan alat politik dan rawan dengan penyalahgunaan pendapatan negara akibat kurang sejalannya kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
Kepada VOA Minggu malam, pengamat migas dari Pusat Kajian Strategis untuk Kepentingan Nasional, Dirgo Purbo, berpendapat kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia tidak membuat pemerintah saat ini maupun pemerintah sebelumnya tulus untuk mengolahnya dengan baik dan benar serta transparan. Menurutnya, ketersediaan energi masih dijadikan alat politik dan rawan dengan penyalahgunaan pendapatan negara akibat kurang sejalannya kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah.
Strategi Meningkatkan Ketahanan Energi
Sepanjang tahun 2011, realisasi produksi minyak Indonesia rata-rata hanya 905 ribu barel per hari, jauh dari target yang ditetapkan APBN sebesar 970 ribu barel per hari. Terlepas dari perdebatan apakah target yang ditetapkan terlalu tinggi, kegiatan operasi – terutama di lapangan-lapangan besar Indonesia – sedang mengalami gangguan serius. Ini akhirnya mengoreksi produksi cukup signifikan.
Langganan:
Komentar (Atom)